Selamat Pagi Cinta
...Cynthia.
"Ray...Albert ngelamar aku ke Papa. Kamu kira apa yang harus kukatakan?"
Ray hanya diam. Pemuda itu membayangkan Albert, pemuda bertubuh tambun bermata sipit, yang cinta buta pada Cynthia. Tidak bahkan Albert menjauhi Cynthia, setelah si gadis mengatakan bahwa ia sudah tidak perawan sejak SMA. Bahkan Albert semakin bertekad untuk menunjukkan cinta tulusnya pada Cynthia. Dan sikap keras kepala Albert pula lah yang membuat Cynthia lebih memilih menghilang bersama Ray, daripada menghadapi Albert di rumahnya.
"Katakan apa yang ada di hatimu," bisik Ray, merasa sedikit kecewa.
"Apa yang bisa kukatakan? Kalau aku sudah punya kamu? Kalau aku akan membayar semua hutang budi Papa padanya kelak? Ray, aku tidak berasal dari keluarga yang bebas. Tidak se-naif itu.... tidak se-naif itu..."
"Cyn..."
"Lagipula, siapa kamu? Who the hell are you?"
"Kamu kok jadi bodoh seperti ini sih?" ucap Ray, nadanya sedikit keras, "Kamu punya kehidupan! Dan tak ada seorang manusiapun yang berhak untuk mengaturnya! Kalau kamu mau, semua bisa! Kamu cukup bilang...ugh!!"
Cynthia menyingkap tirai, memutus kalimat Ray dengan menempelkan bibir basahnya di bibir pemuda itu. Ray membiarkan matanya tetap terbuka. Pemuda itu menyaksikan kedua mata Cynthia yang terpejam, dan sungai air mata yang menyatu dengan basah air di wajah si gadis. Refleks, Ray mengangkat kedua lengannya dan memeluk tubuh Cynthia. Gadis itu menarik kepalanya beberapa saat kemudian.
"Aku cinta kamu! Aku cinta.. aku ngga mau munafik...," isaknya.
Ray memeluk tubuh gadis itu erat-erat. Tak ada nafsu di sana, meskipun ketelanjangan tubuh mereka saling beradu. Cynthia tersedu di dada Ray, jemarinya meremas lengan Ray.
Ray membiarkan Cynthia menangis beberapa menit, sampai akhirnya pemuda itu mendorong tubuh si gadis sedikit menjauh.
"Cyn, aku pulang."
Cynthia menyeka matanya dengan punggung tangan.
"Jangan pergi, Ray...," isak si gadis.
"Kalau aku ngga pergi sekarang. Nanti kamu tambah bodoh."
"Aku suka jadi bodoh," bisik Cynthia. Ray menghela nafasnya.
"Semua orang suka jadi bodoh kalau sedang jatuh cinta."
Cynthia tak menyahut, lengannya berusaha merengkuh Ray, tapi pemuda itu melangkah mundur. Cynthia menatap Ray, dan pemuda itu tersenyum padanya.
"Cyn," ucap Ray, "aku ngga suka cewek bodoh."
"Ray..."
"Aku pulang."
"Ray...."
"Kalau sudah pintar, telpon aku di kantor."
"Ray...."
Ray melangkah keluar dari kamar mandi, menutup pintu di belakangnya. Ray memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Ia tak suka terlibat dalam urusan semacam ini. Ia tak pernah menginginkan seorang gadis untuk jatuh cinta padanya. Ray tak ingin seorang gadis menjadikannya sebagai penentu dalam memilih jalan hidup. Ray tak ingin menerima tanggung jawab sebesar itu. Ia tak suka kebodohan yang ada dalam kata cinta.
Ray baru saja selesai mengenakan kemejanya, saat pintu kamar mandi terbuka. Pemuda itu menoleh dan melihat Cynthia dengan berbalut handuk tersenyum padanya. Ray membalas tersenyum, melangkah mendekati gadis itu. Cynthia meraih dasi di tangan Ray, lalu mulai mengalungkannya di leher si pemuda.
"Mungkin aku akan menariknya, membunuh dirimu, lalu membunuh diriku sendiri," bisik Cynthia, seraya jemarinya bergerak lembut merapikan simpul dasi.
"Oh, silahkan saja. Tak ada bedanya antara hidup dan mati. Orang bersyukur karena hidup penuh warna. Dan orang mati bersyukur karena warna-warna hidup tak semuanya indah, bahkan terkadang terlalu buruk untuk dilihat."
Cynthia menekan simpul dasi ke atas, sementara satu lagi tangannya menarik ujung dasi ke bawah. Ray memejamkan matanya sambil tersenyum.
"Aku serius," desis Cynthia.
"Aku juga," balas Ray berbisik.
"Tapi aku memilih untuk tidak jadi orang bodoh," bisik Cynthia. Dan ikatan di leher Ray mengendur. Pemuda itu membuka matanya, melihat senyuman tersungging di bibir Cynthia.
"Cepat sekali berubahnya?" tanya Ray sambil menyeringai.
Cynthia menarik tangannya dan berkata, "Mungkin bodohku membuat aku pintar. Aku bodoh karena mencintaimu. Kamu tak suka orang bodoh. Jadi kupikir aku lebih baik tetap berusaha untuk pintar."
Ray tertawa.
"Aku takkan pernah bisa miliki kamu ya, Ray?"
"Ngga."
"Suatu saat nanti?"
"Ngga juga."
"Oh s'well, what sould I do about you?"
"Be smart."
Cynthia meraih bibir Ray dengan bibirnya.
"Jangan pergi sampai siang nanti..." desah gadis itu.
"I won't," bisik Ray, lalu menarik handuk yang menutupi tubuh Cynthia.
Mereka bercinta. Lagi.
Ray terbangun saat jam dinding menunjukkan pukul setengah empat sore. Pemuda itu menoleh dan mendapati Cynthia berbaring memunggunginya. Ray tersenyum dan mendekatkan wajahnya, lalu mengecup lembut pundak gadis itu.
"Good bye, lover," bisik Ray. Cynthia tak bergerak.
Ray lalu mengangkat tubuhnya, bergerak selembut mungkin turun dan meraih pakaian yang berserakan di lantai. Sepuluh menit kemudian Ray sudah berada di depan gedung apartemen Cynthia. Menatap silhouette gadis itu di balik jendela, Ray tersenyum. Firasat pemuda itu mengatakan bahwa itu lah terakhir kalinya ia menginjakkan kaki di tempat itu.
DAY 2 Lenvy, girl with passion
Tetes-tetes air hujan masih juga deras menerpa bumi kala Ray berhasil menyesakkan tubuhnya di antara kerumunan orang yang berteduh di emper toko alat-alat olahraga itu. Pemuda itu mengeluh, membersihkan tetes air yang menempel di wajahnya. Beberapa pasang mata memandangnya dengan rasa ingin tahu. Ray memang mencolok di antara kerumunan orang itu. Wajahnya yang bersih tak menunjukkan ciri khas pejalan kaki, begitu pula pakaian necis yang ia kenakan. Hanya rambut gondrongnya yang membuat ia ...
Hanya satu membran elastis yang membedakan antara kebahagiaan dan kesedihan. Sahabat Ray, Dita, pernah berkata, "Orang hanya bahagia saat duka itu tiada, dan berduka saat bahagia itu hilang. Tak ada bahagia, maka tak ada susah, begitu pun sebaliknya. Hukum alam yang mudah dicerna. Tapi apa yang terjadi bila ada seseorang yang ingin dan bahkan mampu berada di ambang batas antara keduanya?"
Orang itu adalah orang paling cerdas di dunia. Sekaligus menjadi orang terdingin di dunia. A human without soul. A zombie.
-o-
Selamat Pagi Cinta
(enam dari tujuh hari yang dilalui Ray dalam hidupnya)
...memasukkan lidahnya ke dalam mulut si pemuda.
Tet-teeeett!!
Lenvy menarik bibirnya dan tertawa. Ray memandang ke arah jalanan yang lengang di depan mereka, dan kepalan tangan yang keluar dari dalam mobil di belakang mereka, lalu ikut tertawa.
"Ke rumahku ya, Ray?" bisik Lenvy tanpa menoleh.
Ray tak menyahut. Ia memang sedang jenuh setelah bekerja seharian. Dan seks sudah pasti merupakan obat yang mujarab untuk mengusir kejenuhan, seperti yang Ray yakin benar sama dengan yang ada di pikiran Lenvy.
"Kamu yakin?"
"Sini, kamu yang nyetir," Lenvy berkata, membelokkan mobilnya ke salah satu gang pinggir jalan dan menghentikannya. Ray tertawa, membuka pintu mobil dan bergegas menuju sisi mobil yang lain.
Selalu saja begitu, Ray menyetir sampai ke rumah, sementara Lenvy memuaskan hobi seksualnya. Foreplay, begitu Ray dan Lenvy menyebutnya, dan tentu saja orang-orang yang lain juga.
Ray dan Lenvy pertama kali berjumpa di sebuah seminar, tepat sebulan yang lalu. Waktu itu Ray ditugaskan untuk mewakili kantornya, mendengarkan semua omong kosong para pakar periklanan ibukota. Ray yang memang tak pernah ambil pusing dengan ide-ide brilian orang lain, lebih suka menghabiskan waktunya dengan melirik gadis-gadis eksekutif yang banyak berseliweran selama seminar berlangsung. Satu lirikannya menemukan sosok Lenvy, dengan bibir bawah si gadis yang tergigit saat beradu pandang dengannya. Beberapa lirikan lagi, dan sebuah senyum menggoda, gadis itu tak menolak saat Ray melangkah mendekatinya.
Lenvy, sosok wanita karir jaman millenium. Muda, cantik, dan penuh gairah. Usianya yang sebaya dengan Ray, membuat semua perbincangan terasa lebih menyenangkan. Gayung bersambut saat Ray menyinggung masalah sex after lunch, euforia kalangan eksekutif muda yang workaholic. Bahkan Lenvy, yang semula mengatakan bahwa ia `tidak terlalu' menyukai hal itu, bukan `tidak pernah' melakukannya, terpaksa mengakui bahwa Ray membuatnya ketagihan, setelah pemuda itu menyetubuhinya seharian suntuk di sebuah kamar hotel.
Ray tahu, penilaian Lenvy padanya tak jauh berbeda dengan penilaiannya sendiri. Khusus kalangan orang muda, Ray adalah sosok yang didambakan semua gadis. Mapan, mempesona, dan memabukkan. Hubungan mereka pun berkembang menjadi mutualisme, saat Lenvy menyanggupi untuk menyediakan models agency-nya sebagai partner bayangan biro periklanan tempat Ray bekerja.
Semua senang, tak ada yang merasa dirugikan.
-o-
Anik hanya melongo, seperti biasa, saat menyaksikan majikannya masuk ke dalam rumah dengan menggandeng lengan Ray.
"Ayo, Ray," desis Lenvy tak memperdulikan tatapan bertanya dari Anik. Nafasnya terengah. Ray menurut saat gadis itu menariknya menuju kamar tidur. Lenvy punya hasrat yang besar, bahkan terkadang Ray merasa gadis itu mengerikan di tempat tidur. Lima menit yang lalu, Lenvy masih mengulum penisnya dengan ganas di dalam mobil, dengan sentuhan luar biasa yang nyaris saja membuatnya ejakulasi di dalam mulut si gadis. Sekarang pun Ray harus mempertahankan nafsunya yang bergolak hebat, saat Lenvy menciumi seluruh bagian tubuhnya sambil melucuti pakaian yang melekat di tubuh mereka berdua.
Tak berapa lama kemudian, hanya erangan Lenvy yang terdengar di dalam kamar.
-o-
Ray terbangun, mendapati suasana kamar yang remang-remang. Pemuda itu mengeluh dalam hati, saat merasakan sekujur tubuhnya yang penat. Matanya lalu memandang ke sekeliling kamar. Tak ada sosok Lenvy dimanapun. Bangkit dari tempat tidur, Ray menyambar celana panjangnya di lantai. Sedikit terkejut juga ia melihat arloji di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Belum pernah ia berada di rumah Lenvy sampai selama itu.
Ray memandang kemeja yang tersampir di meja dekat pintu. Pemuda itu tersenyum geli. Lenvy nyaris saja membuat kemeja Kenzo kesayangannya sobek tadi. Gadis yang luar biasa, pikir Ray lalu melangkah mendekati pintu. Baru saja hendak meraih kemejanya, mendadak pemuda itu menangkap suara-suara ganjil dari luar kamar. Ray mendekatkan telinganya pada daun pintu. Alisnya berkerenyit.
"Kamu!! Jangan!!"
PRANG!!
Nyaris saja Ray melompat saking terkejutnya. Apa yang tengah terjadi? pikir pemuda itu dalam hatinya. Sedikit curiga, Ray memutar gagang pintu. Pintu membuka sedikit, tapi Ray hanya bisa melihat ruang tamu.
"Beb. Jangan, Beb. Aku mohon. Jangan," terdengar suara seorang gadis. Ray yakin seratus persen kalau itu adalah suara Lenvy.
"Apanya yang jangan-jangan?" Kali ini suara seorang pria, berat dan kasar. Tanpa sadar Ray mengulurkan tangannya ke samping, meraba permukaan meja, sedikit kecewa saat hanya menemukan sebuah vas bunga.
"Aku cinta kamu, Beb. Hanya kamu. Sumpah! Sumpah!"
Ray menunggu, melacak lagi dengan matanya sosok-sosok yang mungkin terlihat dari tempat di mana ia berada.
"Cinta! Cinta! Lalu siapa yang sama-sama dengan kamu siang tadi? Setan?"
Ray terperangah. Rupanya Lenvy dan orang itu tengah membicarakan dirinya. Dan Ray tak bisa memperkirakan kalau pria itu tahu bahwa ia masih ada di dalam rumah Lenvy. Bagus, pikir Ray dalam hati, sekarang ia dalam kesulitan. Ray menoleh dan menatap jendela kamar. Ia menggerutu dalam hati, seandainya saja ia masih remaja, jendela dan pagar setinggi apapun bukan halangan baginya. Sekarang? Saat rokok dan seks sudah meracuninya terlalu banyak?
Tapi, Ray, bisik hatinya lagi. Kamu akan lari dari masalah?
"Aku cek kamarmu!" Ray mendengar pria itu berkata-kata lagi. Ray menggenggam vas bunga erat-erat di tangannya dan merapatkan pintu kamar.
"Beb! Kamu kok ngga percaya sih? Beb!! Beb!!"
Lalu sebuah pemikiran lain melintas di benak Ray. Kalau ia melibatkan dirinya dalam masalah ini, lalu masalah apa lagi yang akan menantinya? Siapa orang itu saja ia tak tahu. Lenvy juga bukan gadis yang layak untuk ia bela dengan mempertaruhkan nyawa. Berpikir demikian, Ray mengambil keputusan bulat. Ia harus cepat! Pemuda itu meletakkan vas ...
...tampak sedikit kumuh, namun tetap saja berbeda dengan orang-orang yang berteduh bersamanya.
Ray mengerti, bahwa beberapa orang masih menyimpan keberadaaan jurang kesenjangan sosial itu dalam hati mereka. Apalagi sejak terjadinya krisis moneter di akhir 1997. Banyak kejahatan yang terjadi berdasarkan hal itu. Tak ada yang bisa disalahkan dari pola pemikiran yang demikian, hanya sistem pemerintahan yang buruk, itu saja, yang membuat perbedaan begitu mencolok di antara lapisan masyarakat. Yang miskin terjun bebas, yang kaya cuma terpeleset. Yang kaya melarikan diri, yang miskin memprotes dengan menaikkan angka kriminalitas. Suatu kewajaran sekaligus kenyataan yang menyedihkan. Dan Ray tak bisa memungkiri bahwa ia termasuk salah seorang yang `cuma' terpeleset gara-gara krisis moneter tersebut, walaupun ia bukan termasuk yang melarikan diri.
"Permisi, Pak, bisa pinjam korek?" pemuda itu bertanya sambil tersenyum pada salah seorang bapak di sampingnya. Bapak itu, tentu saja, memandang penuh selidik, namun begitu matanya bertemu dengan senyum simpatik Ray, si Bapak merogoh sakunya dan mengeluarkan sekotak korek api.
Ray menerima kotak itu dan sudah bersiap menyalakan rokok yang sudah terselip di bibirnya, saat seseorang mendesak tubuhnya dan membuat rokoknya terjatuh.
"Hey!" Ray berseru, lebih pada dirinya sendiri. Pemuda itu membungkukkan tubuhnya dan memungut batang rokok yang untungnya tidak terkena genangan air.
"Sial, untung ngga basah. Rokok mahal," gumam pemuda itu, menyelipkan kembali batang rokok itu ke sela bibirnya. Sikapnya yang wajar, bahkan cenderung kocak membuat beberapa pasang mata yang semula menatap iri menjadi lebih hangat.
"Ini, Pak," ucap Ray, mengembalikan kotak korek api pada Bapak di sebelahnya, yang menerima sambil tersenyum dan menganggukkan kepala.
Ray menatap tirai hujan yang membatasi emper toko dengan dunia luar. Lirikannya berusaha menembus tirai tersebut, mengamati mobil-mobil yang lalu lalang di depan halte bis. Ray berpikir kesal, seandainya saja ia tadi tidak berusaha melarikan diri dari Rusdi, mungkin ia lebih memilih menunggu di halte tersebut, bersama dengan rekan-rekannya yang lain. Tapi tentu saja ia tidak ingin berlama-lama berbincang dengan Rusdi, pria yang selalu punya semangat berlebih untuk membanggakan dirinya sendiri itu, yang tak pernah mau mengaku kalah darinya dalam urusan wanita. Tadi, tepat sebelum Rusdi mulai berceloteh tentang pengalaman seksnya bersama Ida, yang Ray tahu bahwa hal itu tak mungkin terjadi karena ialah yang sudah meniduri gadis itu tanpa sepengetahuan siapapun, Ray melarikan dirinya ke emper toko alat sepatu. Malas benar ia menanggapi omong kosong Rusdi.
Ray memang begitu, ia sangat membenci orang-orang yang hanya bisa omong besar tanpa bisa membuktikan omongannya sendiri. Bahkan Ida pernah berkata, "Siapa? Rusdi? Gila apa? Orang itu kasar dan menyebalkan kalau diajak bicara. Bukan tipe cowok yang enak diajak kencan."
Padahal kalau dihitung-hitung, Ida bukanlah gadis nomor satu di kantor, dan mendapatkan Ida bagi Ray jauh lebih mudah dari membalikkan telapak tangan.
Dari jauh, Ray bisa melihat raut tak senang orang-orang yang berdiri di sebelah Rusdi. Merasa geli sendiri, pemuda itu menatap arloji di pergelangan tangannya.
Ini sudah lebih dari lima belas menit, pikirnya dalam hati. Kemana gadis itu?
Senyum Ray mengembang saat melihat sebuah sedan ungu berhenti di halte bis. Pemuda itu mengangkat tas kulitnya ke atas kepala, dan berlari menembus tirai hujan. Ray hanya tersenyum sinis, saat melihat Rusdi menatapnya dengan rasa ingin tahu.
Pintu mobil terbuka, dan semua orang bermata awas pasti bisa melihat seraut wajah ayu dengan senyum mempesona di belakang kemudi.
"Ciao, Rus," ucap Ray, memasang seringai terbaiknya. Rusdi terdengar mendengus, sementara matanya tak lepas dari sosok di belakang kemudi. Ray sebetulnya ingin memamerkan gadis itu pada Rusdi, sekedar ingin menyatakan bahwa `kamu tak ada apa-apanya, boy', namun kondisi alam tak mengijinkannya untuk berbuat demikian. Begitu Ray menutup pintu, gadis ayu itu menekan pedal gas.
"Sori, Ray. Jalanan macet benar tadi," ucap Lenvy, gadis di belakang kemudi, pada Ray yang sibuk menyeka wajahnya dengan tissue. Ray masih juga tersenyum-senyum, "Ah, ngga apa-apa."
"Kenapa? Kamu nampak senang?"
"Tidak. Malah kecewa, soalnya aku ingin memamerkan kamu pada rekan-rekanku."
Gadis itu tertawa dan berkata, "Konyol benar kamu."
"Biar saja. Kan asik, ngenalin cewek cakep."
Lenvy tak menyahut ucapan Ray. Saat itu jalanan memang lebih padat dari biasanya.
"Jadi, bagaimana kerjaanmu hari ini?" tanya Lenvy, memecah keheningan.
"Ah, baik-baik saja. Kamu?"
"Aku? Parah. Orderan begitu banyak, sementara anak-anak maunya menikmati liburan," dan Lenvy mulai bercerita tentang agen modelling yang dikelolanya bersama sang kakak. Ray mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Lalu, kamu saja yang turun," ucap Ray kemudian. Lenvy tertawa.
"Aku? Ngga ah. Aku lebih suka menikmati liburan."
"Nah loh?"
"Iya. Sama kamu," ucap Lenvy, sembari matanya melirik ke arah Ray.
Pemuda itu hanya tersenyum dan berkata, "Jangan begitu. Aku tahu kamu orang sibuk. Aku ngga mau jadi pengganggu."
"Pengganggu? Siapa bilang kamu mengganggu?"
Ray tertawa, memilih untuk tidak meneruskan perbincangan itu.
"Jadi, Ray. Kemana kita sekarang? Ke rumahmu atau ke rumahku?"
"Wah? Aku menangkap nada yang bandel di sana."
Lenvy terkekeh. Saat itu lalu lintas sedang macet total. Lenvy memalingkan wajahnya pada Ray, menatap mata pemuda itu sambil tersenyum. Sesaat kemudian gadis itu memiringkan tubuhnya.
"Kiss me?" bisiknya lirih. Ray menggerakkan kepalanya, menemukan kelembutan bibir gadis itu tak berapa lama kemudian. Bahkan Ray bisa merasakan Lenvy lebih bergairah daripada biasanya. Gadis itu melumat bibir Ray, sambil sesekali ...